• Facebook
  • Google+
  • Email
  • RSS

Inspirasi Sobat Muda

Konsultasi Syariah

Full Downloads

Post Release

Referensi Muslim

Tadabur Surat al Insyirah | Download PowerPoint

referensimuslim.com – Ahad, 18/9/16 kembali bisa duduk bareng bersama Komunitas Al Quran (ODOJ) Kab. Subang. Acara yang rutin dilaksanakan tiap bulan ini bertempat di masjid Agung Subang. Kali ini tema kajian tadabur Surat Al Insyirah, berikut file materi powerpoint, silahkan dibagikan. Semoga bermanfaat!

Pengantar Surat
Dalam al Itqan fi Ulumil Quran, menurut para ulama, surat Alam Nasyrah diturunkan di Makkah setelah surat adh-Dhuha sebagaimana urutannya dalam mushaf utsmany.

Dalam al Mu’jam al Mufahros li Alfazhil Quran, Arti: Kelapangan, Juz 30, Surat ke-94, Urutan Wahyu ke-11, Jumlah Ayat 8, Jumlah Kata 27, Jumlah Huruf 102.

Surat ini memiliki beberapa nama selain Alam Nasyrah, di antarnya: Asy-Syarh, seperti yang terdapat dibanyak cetakan mushaf sekarang dan buku-buku tafsir. Juga al-Insyirah seperti yang disebutkan Imam Jalaluddin as-Suyuthi dan Ibnu al-Jauzy dalam tafsirnya.

Intisari Surat
Surat ini merupakan kelanjutan surat sebelumnya, karena sama-sama membahas kepribadian Nabi Muhammad saw dan kondisi yang dihadapi oleh beliau. Keduanya juga menyebutkan kenikmatan-kenikmatan yang diberikan Allah.

Jika di surat sebelumnya Allah menyebutkan tiga nikmatnya: Allahlah yang memberikan ‘inayah (perlindungan) saat kondisi beliau yatim, fakir dan kebingungan. Maka pada surat ini, Allah tambahkan tiga nikmat-Nya yang lain: nikmat kelapangan dada, meringankan beban beliau saat berhadapan dengan kaumnya ketika menyampaikan risalah kenabian yang tak ringan, juga Allah tinggikan kedudukan dan derajat beliau baik di bumi maupun di langit melebihi segala ciptaan-Nya yang pernah dan yang akan ada.

Hal ini  hanya diperuntukkan kepada beliau demi menghibur sekaligus menguatkan azamnya. Di tengah teror yang tak henti-hentinya dari musyrikin Makkah.

Di akhir surat ini, Allah memerintahkan untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya, juga untuk beribadah setelah menyampaikan risalah.

Perpindahan-perpindahan aktivitas tersebut merupakan refleksi rasa syukur kepada Allah swt atas karunia nikmat-nikmat-Nya yang sangat banyak yang tak memungkinkan untuk dihitung-hitung apalagi untuk dibalas.

Download :

---
Gozali Sudirjo
Founder & CEO Referensi Muslim
http://referensimuslim.com

Bergabung dg ribuan lainnya di Grup Khusus klik:
https://www.facebook.com/groups/848358288598153/

Berbagi dengan Admin Follow @referensimuslim
Read More
Referensi Muslim

3 PONDASI BERSAMA AL QURAN

referensimuslim.com - Seorang pakar Ilmu Al Qur’an Dr. Sholaah Abdul Fattah Al Kholidi dalam kitabnya Mafaatih Lit ta’amul Ma’al Qur’an. ( Kunci berinteraksi dengan Al Qur’an ) mengatakan :

”Seharusnya setiap muslim memiliki tiga waktu dalam setiap harinya untuk Al Qur’an, ada waktu untuk tilawah, ada waktu untuk tadabbur dan ada waktu untuk menghafal.”

Permasalahannya sekarang adalah bagaimana mengkiati waktu kita agar dapat termanfaatkan untuk semua interaksi di atas:

1. Anda harus yakin bahwa pada prinsipnya setiap orang beriman dituntut membaca dan menghafal, keduanya memiliki keutamaan dan peran yang sangat besar dalam pembinaan umat. Untuk itu tanyakan pada diri anda, Untuk apa saya tilawah dan untuk apa saya tahfizh?

2. Tentukan target yang ingin anda capai dalam tilawah secara bertahap, misalnya dua halaman, lima, sepuluh dan seterusnya sampai mencapai target ideal yang minimalnya satu juz.Begitu juga target tahfidz yang ingin anda capai, misalnya dalam tahun ini saya harus hafal satu juz, dua, tiga dan seterusnya. Sangat dianjurkan menentukan target yang paling terjangkau bagi diri kita, agar dalam pelaksanaannya, kita tidak terbebani oleh perasaan yang dapat membuat kita terbebani sbelum melakukan.

3. Tentukan waktu dan masa yang anda inginkan, misalnya untuk tilawah 15 menit, waktunya setiap maghrib, sedangkan tahfidz 15 menit, waktunya setiap subuh. Usahakanlah disiplin dengan ketentuan yang sudah anda sepakati, niscaya Allah akan memberi kemudahan dan kenikmatan Al Qur’an yang besar.

4. Lakukanlah upaya mengqodlok setiap kali anda menyalahi waktu yang telah ditetapkan. Misalnya, jika hari ini anda tidak melakukan, maka besoknya ada rapel tilawah atau tahfidz.

Hakikat mengkiati waktu adalah upaya untuk mencapai tujuan yang didamba-dambakan, masalahnya sekarang, Benarkah tilawah dan tahfidz sudah menjadi dambaan hidup anda? Mereka yang sudah berhasil melaksanakan program ini dengan baik, pada hakikatnya bukan karena mereka memiliki waktu yang lebih banyak, namun rahasianya hanyalah di balik kemauan dan kedisiplinan. Maka manfaatkanlah hidup ini dengan Al Qur’an.

Sumber : buku Tarbiyah Syakhshiyah Quraniyah, karya ust Abdul Azis Abdurrauf
Berbagi dengan Admin Follow @referensimuslim
Read More
Referensi Muslim

3 Karakter Manusia

referensimuslim.com - Dalam momentum Idul Adha, Anda, Saya dan seluruh Umat Islam kembali diingatkan dengan 3 Karakter Manusia yg disebutkan dalam Surat Al Fajr.

Pertama, waktu yg tiap hari kita lewati sejatinya momen momen berharga. Allah bersumpah ; demi waktu fajar, 10 malam, hari genap ganjil, malam yg berlalu. (1-4)
 

Apakah kita merenungi dan memaksimalkan waktu waktu tsb?! (5)

Dalam hal ini karakter manusia sering lupa dg nikmat waktu ini.

Kedua, manusia kerap sombong dg teknologi, kecanggihan materi, bahkan berujung ingkar dg kekuasaan Allah. Contoh kaum Ad, Tsamud, dan Firaun yg dibinasakan dg kehancuran kehinaan ialah bukti kekuasaan Allah. Manusia tiada daya dan lemah dihadapan Nya. (6-14)

Ketiga, tabiat manusia merasa mulia dg harta, dan begitu juga sebaliknya merasa hina tanpa harta. (15-16)

Padahal tidaklah demikian. Manusia serakah menjadikan lupa menyantuni yatim nan miskin, memakan harta waris dg menghalalkan segala cara, dan cinta harta membabi buta. (17-20)

Manusia akan tersadar, jika kematian tiba, menemui Tuhan Semesta Alam, menyaksikan malaikat berbaris, dan menyaksikan panasnya Neraka.

Tiada guna kesadaran saat itu, hingga mengatakan alangkah menyesal, jika seandainya dulu saat di dunia beramal shaleh.

Dzat yang serba maha hari itu terlihat dengan jelas kekuasaan-Nya. Orang yang tadinya beriman dan yakin akan kebesaran dan kekuasaan-Nya akan semakin puas. Dan orang yang mengingkari-Nya pada hari itu terpaksa mengakuinya dengan berjuta penyesalan. Karena murka dan azdab-Nya sangat pedih dan menyakitkan. Tiada yang sanggup menghindar dari siksaaan-Nya. (21-26)

Demikianlah, semoga kita terhindar dari 3 karakter ini dan hanya jiwa jiwa yg lembut, selalu dekat dg Allah, ia yg akan dipanggil spesial dan dipersilahkan memasuki surgaNya. (27-30)

Semoga ibadah sholat, shaum, sedekah dan qurban kita di terima di sisiNya.

Gozali Sudirjo
Founder & CEO Referensi Muslim
http://referensimuslim.com

Bergabung dg ribuan lainnya di Grup Khusus klik:
https://www.facebook.com/groups/848358288598153/
 
*) Khutbah Idul Adha, Senin 12 September 2016 di Soreang Kab. Bandung

Photo:
Haji Joko dan Haji Karim pengurus dan sesepuh DKM Masjid Al Islam

Berbagi dengan Admin Follow @referensimuslim
Read More
Referensi Muslim

PONDASI IBADAH QURBAN

referensimuslim.com - Dalam bahasa Arab, qurban berasal dari kata qaraba, seakar dengan kata ’karib’ dalam bahasa Indonesia, yang berarti dekat. Karenanya, dalam konteks Idul Adha, pesan yang sangat mendasar adalah bahwa agar manusia tidak sesat dalam perjalanan hidup menuju ridha Allah, maka harus selalu menjalin kedekatan dengan-Nya dan merasakan kebersamaan dengan-Nya setiap saat. Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn. Kita semua milik-Nya, dari-Nya kita berasal, dan kepada-Nya kita kembali (Qs. al Baqarah, 156).

Tetapi karena manusia mudah sekali terpedaya oleh kenikmatan sesaat, maka Allah memberi metode dan bimbingan untuk selalu melihat kompas kehidupan, berupa shalat. Karena itulah seruan shalat pun diawali dengan Allâhu Akbar, begitu pula yang diserukan pada Idul Fitri dan Idul Adha. Bahkan dalam ibadah shalat pun kata yang paling banyak diucapkan adalah Allâhu Akbar. Ini mengandung pelajaran bahwa kita harus selalu sadar bahwa prestasi apapun yang kita raih, harta yang kita miliki, jabatan yang kita pangku, semuanya kecil di hadapan Allah. Bahkan semua itu baru bermakna bila berfungsi meningkatkan kedekatan kita kepada-Nya. Kesadaran ini diharapkan dapat mengurangi keangkuhan diri, dan menjadi penghancur ’berhala’ hawa nafsu.

Bahkan secara sangat dramatis penghancuran berhala hawa nafsu tersebut dicontohkan dalam drama penyembelihan Nabi Ibrahim terhadap putranya sendiri, Ismail. Secara fisik, memang peristiwa itu tidak jadi dilakukan, karena posisi Ismail digantikan dengan hewan ternak. Namun secara mental-spiritual perintah Allah telah siap dijalankan oleh Ibrahim, Ismail, dan Hajar -sang istri.

Peristiwa ini juga mengandung pelajaran bagi para pemimpin. Berhati-hatilah terhadap godaan anak. Anak adalah simbol dan obyek kecintaan pada duniawi. Demi anak, orang tua mau berkorban apa saja untuk menggembirakannya. Namun jika tidak hati-hati, seorang pemimpin bisa jatuh karena kecintaan yang berlebihan pada anaknya, sehingga bisa mengalahkan cintanya pada Allah dan nasib rakyat.

Ibrahim adalah sosok pemimpin, sehingga pesan Allah kepada Ibrahim sesungguhnya berlaku pula untuk kita. Kalau cinta kita pada Ismail, yaitu anak-anak kita sendiri, sampai melupakan cinta kita pada Allah dan fakir miskin, maka negara ini tak lama lagi akan hancur. Sesungguhnya cinta pada anak adalah proyeksi nafsu dan ego kita yang tidak hanya terarahkan pada anak, tetapi pada materi, jabatan, dan popularitas.

Jadi ”egoisme perusak” yang harus disembelih, dan ‘berhala’ hawa nafsu yang harus dikorbankan. Inilah spirit dan pesan ibadah qurban, yang harus diterjemahkan dan diwujudkan dalam amal nyata, terutama berupa santunan yang benar-benar diperlukan oleh mereka yang tergolong dhu’afa, tertindas dan bernasib malang. Sebab, yang dilihat oleh Allah bukanlah wujud pemberian dagingnya, melainkan ketaqwaannya.

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
Daging-daging (unta/kambing) dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. (QS. Al Hajj: 37)

****
Gozali Sudirjo
Founder & CEO Referensi Muslim
http://referensimuslim.com

Bergabung dg ribuan lainnya di Grup Khusus klik:
https://www.facebook.com/groups/848358288598153/

Berbagi dengan Admin Follow @referensimuslim
Read More
Referensi Muslim

Menyikapi Hadits Larangan Memotong Rambut dan Kuku Sebelum Qurban

referensimuslim.com - Akhir-akhir ini, setidaknya ketika akses internet mulai merebak, terutama di kalangan terpelajar dan professional dan seiring dengan keinginan mereka menimba ilmu agama, mulai banyak beredar dakwah (ajakan) dan juga peringatan dari beberapa orang agar orang yang hendak berqurban jika sudah masuk tanggal satu Dzul Hijjah agar tidak memotong rambut dan kukunya sehingga setelah hewan qurban disembelih.

Jika ditelusuri dasar pilihan hukum di atas adalah hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah RA yang dikeluarkan oleh Imam Muslim di dalam kitab Shahihnya.

عَنْ أُمِّ سَلَمةَ رضِيَ اللَّه عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ، فَإِذا أُهِلَّ هِلالُ ذِي الحِجَّة، فَلا يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْره وَلا منْ أَظْفَارهِ شَيْئاً حَتَّى يُضَحِّيَ

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang memilihi sembelihan yang akan disembelihnya, maka jika sudah masuk hilal Dzul Hijjah, jangan sekali-kali mengambil (memotong) rambutnya dan kuku-kukunya sedikitpun sehingga ia menyembelih” HR. Muslim.

Jika membaca hadits seperti ini dengan lafadz yang mengandung penekakanan “jangan sekali-kali” yang di dalam ilmu nahwu “nun” pada lafdz “ta’khudzanna” dinamakan “nun taukid” nun yang berfungsi memberikan penekanan pada kata kerja, pembaca yang awam tentu akan segera mengambil kesimpulan hukum “haram” dari larangan dalam matan hadits dengan berdasar hadits yang shahih. Dan bisa jadi tidak ingin ketinggalan kesempatan ia akan segera memberikan peringatan dan berdakwah ke sanak saudara dan sahabat yang akan berqurban dengan niat yang tulus ingin mencegah kemunkaran.

Hadits di atas ada di dalam shahih Muslim, hadits yang terkenal, bahkan di banyak pesantren di Indonesia kitab shahih Muslim juga dikaji sampai tuntas, tidak hanya itu, hadits ini juga dimuat di dalam kitab “Riyadhus Shalihin” yang hampir seluruh pesantren tradisional maupun modern di Indonesia mengaji kitab ini, di samping itu ibadah qurban di hari raya ‘idul Adha sudah ada ratusan tahun di semua negara Islam, namun mengapa hukum larangan memotong rambut dan kuku nyaris tidak terdengar? Pertanyaan yang sangat wajar dan tentu ada sesuatu yang menyebabkan hokum tersebut kurang popular, meskipun termuat di dalam kitab hadits yang shahih sekelas shahih Muslim.

Hadits ini bisa dijadikan pelajaran berharga, untuk menyikapi banyak lagi hadits lainnya yang berkaitan dengan hukum, bahwa tidak semua lafadz-lafadz lahiriah (dzahiriah) sebuah hadits bisa langsung dijadikan dalil hukum, para ulama’ hadits selalu mengaitkan dengan dilalah (maksud) lafadz tersebut dan di samping itu juga dicari dalil-dalil pembanding, sebab bisa jadi ada ta’arudh (kontradiksi) dengan dalil yang lain sebagai bahan untuk jam’ (mengkompromikan) atau men-tarjih (memilih yang kuat) dari sekian banyak dalil, tanpa proses tersebut dipastikan seseorang yang membaca dalil hukum dari teks al-Qur’an ataupun Sunnah akan terjebak dalam kekeliruan dalam pengambilan kesimpulan.

Kembali ke hadits Ummu Salamah di atas, derajat hukumnya dipastikan shahih, namun bukan berarti jika hadits yang shahih kemudian dilalahnya (maksudnya) menjadi qath’i (pasti dengan satu arti), nash di dalam al-Qur’an ataupun hadits yang mutawatir dan shahih, maksud dan kandungannya memiliki dua sisi, ada yang qath’i (pasti) dan ada yang dhanni (relatif).

Hadits ini, meskipun lafadz dzahirnya ada penekanan kuat, “jangan sekali-kali”, namun para ulama’ tidak kemudian membiarkan arti ini dilanjutkan ke ranah hukum tanpa proses, namun ada sekian banyak pertimbangan sebelum mengambil kesimpulan, di antaranya:

Ada beberapa riwayat dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang dimuat oleh Imam al-Bukhari di dalam shahihnya dan juga di muat oleh imam-imam muhadditsin lainnya, menerangkan bahwa Rasulullah saw mengirimkan hadyu (hewan sembelihan) melalui Abu Bakar yang mana hadyu tersebut dikirimkan ke Baitullah, dan Nabi saw masih muqim di Madinah, Nabi saw tidak mengharamkan apapun sebagaimana pantangan yang dihindari oleh orang yang sedang berihram.

Peristiwa ini diriwayatkan oleh Aisyah, istri dan sahabat yang paling mengetahui seluk beluk Nabi saw di rumahnya, oleh karenanya Imam as-Syafi’i berkomentar: “Dan mengirimkan hadyu (hewan qurban) lebih dari sekedar ingin berqurban, maka ini menjadi dalil bahwa hal itu (memotong rambut dan kuku) tidak diharamkan”.

Abu al-Walid al-Baji mengatakan: “Ucapan Aisyah: “Kemudian Nabi saw mengirimkan hewan qurbannya melalui ayahku”, (dengan menyebut melalui ayahku) ia sebenarnya ingin menerangkan bahwa Nabi saw melakukan itu semua pada tahun ke 9 H, juga ingin memberitahukan bahwa beliau mengerti semua permasalahnnya”.

Artinya, perbuatan Nabi saw dengan tidak meninggalkan pantangan apapun sebelum berqurban terjadi di akhir hayat beliau, sebab pada tahun berikutnya beliau naik haji. Hal ini menunjukkan bahwa hadits Aisyah hukumnya tetap, tidak dimansukh (tidak dihapuskan).

Di samping itu riwayat Aisyah ini demikian masyhur di kalangan sahabat dan tabi’in bahkan kemasyhuran riwayat ini sampai pada kelas mutawatir, berbeda dengan riwayat Ummu Salamah, oleh karenanya al-Imam al-Laith bin Sa’d ketika disampaikan kepada beliau tentang hadits Ummu Salamah ra beliau berkata: “(Hadits) ini telah diriwayatkan, namun orang-orang melakukan selain yang terkandung dalam hadits ini”. Imam al-Laits sepertinya ingin berkesimpulan, meskipun hadits ini shahih tapi orang-orang mengamalkan hadits shahih yang lain. Menunjukkan maksud dan kandungan hadits Ummu Salamah kurang kuat jika dibandingkan dengan riwayat-riwayat yang lainnya, dan bahkan banyak ulama’ muhadditsin yang tidak mengamalkan isi kandungan hadits Ummu Salamah.

Di sudut lain ada juga ulama’ tabi’in yang menggunakan qiyas, ‘Ikrimah murid dan mantan hamba Ibnu Abbas yang juga ulama besar Makkah ini ketika disampaikan kepada beliau hadits Ummu Salamah, beliau mengakatan: “Tidaklah sebaiknya orang itu meninggalkan berhubungan badan dan wewangian”. Maksudnya, jika memotong kuku dan rambut dilarang tentu berhubungan badan harus dilarang juga, sebab lebih berat. Qiyas ini diperkuat lagi oleh Ibnu ‘Abdil Barr, tokoh penting madhab Maliki, beliau berkata: “Semua ulama’ telah berijma’ (konsensus), bahwa berhubungan badan di sepuluh awal Dzul Hijjah bagi yang ingin berqurban diperbolehkan, maka yang kurang dari itu hukumnya mubah”. Logika Ibnu Abdil Barr juga sangat relevan, dari sekian banyak pantangan ihram, berhubungan badan tidak sebanding dengan memotong rambut dan kuku.

Adapun yang berpendapat bahwa larangan tetap berlaku dengan mendasarkan kepada hadits Ummu Salamah, mereka menyikapinya sebagai berikut:

Pertama, teks dzahir dari hadits Ummu Salamah berpendapat bahwa hadits Aisyah sangat umum sedangkan hadits Ummu Salamah untuk peristiwa yang khusus, sesuai dengan kaidah yang khusus harus didahulukan dari pada yang umum.

Hadits ‘Aisyah menerangkan perbuatan Nabi saw, sedangkan hadits Ummu Salamah menyebutkan sabda Nabi saw, dan dalam istinbath hukum dari hadits, ucapan Nabi saw lebih didahulukan daripada perbuatannya, sebab boleh jadi perbuatannya hanya khusus untuk beliau.

Imam Ahmad yang berpendapat haramnya mencukur rambut dan memotong kuku membedakan hukum bagi orang yang berqurban dengan mengirimkan ke Makkah dan tetap tinggal di rumahnya dan orang yang berniat ingin menyembelih. Meskipun alasan ini sudah terjawab dengan komentar Imam as-Syafi’i di atas.

Dari metode istinbath yang berbeda-beda ini maka kesimpulan hukumnya juga berbeda, inilah yang disebut ijtihad ulama’ dalam memutuskan hukum, meskipun sudah ada nash, ijtihad dalam persoalan ini tetap diperlukan sebab meskipun ada nash agama, namun dalilnya bukan dalil yang qath’i, sehingga maksud dari isi kandungannya masih multi tafsir.

Oleh karenanya para ulama’ berbeda dalam memutuskan hukum memotong rambut dan kuku bagi orang yang ingin berqurban jika hilal bulan Dzul Hijjah sudah terlihat, minimal ada empat pendapat:

1. Abu Hanifah dan jumhur Hanafiyyah: Hukumnya boleh, tidak makruh dan tidak ada masalah apapun.

2. Pengikut Abu Hanifah yang muta’akkhirin: Tidak apa-apa, tidak makruh namun khilaful aula (meninggalkan yang mustahabb).

3. Al-Malikiyyah dan As-Syafi’iyyah: Disunnahkan untuk tidak memotong rambut dan tidak memotong kuku bagi yang hendak berqurban dan jika memotongnya termasuk makruh tanzih, namun bukan haram.

4. Imam Ahmad, Dawud ad-Dzahiri dan beberapa ulama lain menyatakan hukumnya haram jika memotong rambut dan kuku.

Dari paparan di atas, yang menyatakan hukumnya haram sangat sedikit, bahkan dari ulama’ madzhab hanya Imam Ahmad yang bersikukuh hukumnya haram, adapun jumhur ulama’ madzhab lebih cenderung memutuskan hukumnya adalah makruh, bahkan makruh karahah tanzih, yang berarti seyogyanya tidak dilakukan.

Pelajaran penting dari hadits ini:

Terlepas dari pilihan-pilihan hukum yang sudah matang dan dikaji dengan mendalam oleh para ulama’ hadits dan juga fuqaha’ dan diskusinya sudah dibahas tuntas di dalam kitab-kitab fiqih dan syarah-syarah hadits, ada pelajaran penting dari hadits ini:

1. Memahami teks agama tanpa bimbingan ulama’ adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Belajar sendiri dari nash-nash al-Qur’an dan hadits tanpa merujuk ke tafsir dan syarah-syarah hadits adalah tindakan yang sangat gegabah.

2. Nash al-Qur’an dan nash hadits-hadits Nabi yang berupa larangan, belum tentu kesimpulan hukumnya adalah haram. Sebab kata larangan memiliki indikasi makna yang bermacam-macam, untuk mengetahui hal ini, seseorang perlu mempelajadi dilalatul alfadz di dalam disiplin ilmu ushul fiqih.

3. Tidak semua nash dalam al-Qur’an dan hadits mengandung maksud qath’i (hukumnya pasti, tidak menerima perbedaan), namun kebanyakan nash dalah dhanni (relatif).

4. Para salafusshalih, dalam hal ini para sahabat dan tabi’in juga terbiasa berbeda dalam masalah ijtihadiyyah. Hal ini bisa dilihat dari sikap para tabi’in yang melaporkan persoalannya kepada Aisyah ra juga sikap para ulama’ tabi’in dalam menyikapi hadits Ummu Salamah ra.

5. Pilihan hukum tertentu dari masalah-masalah khilafiyyah tidak boleh mengganggu muslim yang lain yang berbeda pilihan. Bahkan tidak diperlukan amar ma’ruf dan nahi munkar dalam persoalan seperti ini. Sebab semuanya berdasarkan dalil yang sama-sama dianggap kuat.

6. Hadits ini hanya satu dari beratus-ratus hukum yang di dalamnya terjadi khilaf di kalangan ulama’, sehingga semakin luas wacana berpikir seseorang dalam dalil-dalil agama, maka akan semakin berlapang dada dalam menyikapi persoalan umat.

7. Merasa paling di atas sunnah hanya dengan berpihak pada satu pilihan hukum yang dhanni tanpa toleransi akan memicu perselisihan di antara umat Islam.

8. Ilmu agama demikian luas, dalil agama juga demikian banyak, akan sangat berbahaya jika hanya berpegang kepada satu dan dua dalil dan tidak mau mencari yang lain dan menutup hati dari kaluasan ilmu yang tak berbatas.

9. Terkadang seseorang sudah merasa paling benar dalam pilihan hukum di satu masa, namun lambat laun seiring dengan berkembangnya wawasan keagamaan, maka dada juga akan semakin luas untuk menerima perbedaan yang dalam ranah khilafiyyah yang mu’tabar.

10. Masalah ijtihadiyyah seperti di atas bukanlah tolok ukur al-haqq dan al-bathil, namun ranahnya adalah al-shawab (benar) dan al-khatha’ (salah), yang berijtihad dan benar akan mendapat dua pahala dan yang berijtihad dan tersalah tetap mendapatkan satu pahala.

Wallahu a’lam

****
Repost dari tulisan Dr Muntaha, Dosen Fiqih International Islamic University Malaysia.

Berbagi dengan Admin Follow @referensimuslim
Read More
Referensi Muslim

PONDASI MENUTUP AURAT

referensimuslim.com - Hari ini, saya mendapat amanah menyampaikan materi batasan aurat. Karena saya sudah berazam, bahwa materi apapun, harus PONDASI nya dulu dikuatkan.

Akhirnya, diawal acara tatsqif, saya ajak audience sama sama membaca surat al A'raf ayat 1 s.d. 22, setelah selesai, seorang peserta membacakan artinya dlm bhs indonesia.

FOKUS saya dari ayat 11-22, yaitu ayat yg menjelaskan iblis enggan dan sombong tdk mau bersujud kpd Adam, ia merasa lebih mulya, karena diciptakan dari api, sedang Adam dari tanah.

Setelah iblis terhina dan terusir, ia meminta kpd Allah agar diberi penangguhan hingga hari kiamat, Allah kabulkan permohonannya.

Iblis bersumpah akan selamanya menggoda manusia dari berbagai penjuru, depan, belakang, kanan kiri.

Dan Akhirnya, Sukses Pertama Iblis dalam tipu daya dan bisikannya yaitu ketika ia berhasil merayu Adam dan Hawa sehingga Aurat mereka terbuka.

*****
Secara arti bahasa Aurat = kekurangan (نقصان ).
Tdk ada seorang manusia pun yang rela, jika kekurangannya di sebar, diekspos dan di publikasikan.

Sehingga hakikat Aurat yaitu utk menjaga dan menutupinya.

Sedangkan tujuan pakaian dalam Islam, hanya dua;
1. Menutup Aurat
2. Menjaga kehormatan

Manusia yang tidak berpakaian, atau yang tidak menutup AURAT nya apa bedanya dengan BINATANG.

Saya tanya kepada audience, apa yang Anda katakan bila di jalan melihat orang tidak berpakaian???
Serentak menjawab : ORANG GILA

Demikianlah, manusia yg tdk menutupi auratnya hanya ada dua kemungkinan; sama dg binatang atau orang gila!

Keterangan:
- Batas aurat laki laki pusar s.d. lutut.
- Batas aurat wanita seluruhnya kecuali muka dan telapak tangan.

*****
Gozali Sudirjo
Founder & CEO Referensi Muslim
http://referensimuslim.com

Bergabung dg ribuan lainnya di Grup Khusus klik:
https://www.facebook.com/groups/848358288598153/

Berbagi dengan Admin Follow @referensimuslim
Read More