Salut, SMAIT As Syifa Mengkaji Kitab Ta’limul Muta’alim Karya al Zarnuji



referensimuslim.com – Mulai semester ini SMAIT As Syifa mengkaji kitab Ta’limul Muta’alim karya al Zarnuji. Salut, saya katakan. Karena di lingkungan pesantren tradisional, seolah-olah kitab Ta’lim al-Mutaallim Thariq al-Taallum (Mengajar Metode Belajar kepada Santri) merupakan kitab ‘wajib’ bahkan nyaris menjadi cibiran bila seorang santri belum mengaji kitab ini.
 
Sedang di kalangan pesantren-pesantren modern kitab Ta’lim ini nyaris tidak populer, bahkan tidak kenal sama sekali. Dan agaknya pengaruh kitab ini yang sedikit membedakan “penampilan” antara alumnus pesantren tradisional dengan alumnus pesantren modern. Di beberapa negara Timur Tengah, khususnya Saudi Arabia kitab ini juga tidak disebut-sebut. Namun usaha seorang Doktor lulusan Jerman (dulu: Jerman Barat) yang melakukan edit dan kritik terhadap kitab ini membuktikan bahwa kitab tersebut masih diperhatikan orang. 

 
Siapa al-Zarnuji?
Kitab Ta’lim yang beredar di tanah air umumnya dicetak dengan syarah (komentar)nya yang ditulis Syeikh Ibrahim ibn Isma’il. Sedang kitab Talim itu sendiri ditulis oleh Syeikh al-Zarnuji. Baik kitab Ta’lim maupun Syarah-nya tidak menyebut identitas al-Zarnuji. Hal ini cukup mempersulit kajian kitab tersebut, sehingga dapat diketahui bagaiamana keadaan pada waktu kitab itu ditulis dan sejauhmana hal itu mempengaruhi kitabnya. Dalam al-Munjid nama al-Zarnuji disebut singkat sekali. Yang agak membantu hal ini adalah keterangan yang terdapat dalam kitab al-A’lam (Tokoh-tokoh) karangan al-Zarkeli. Ditulis di situ bahwa al-Zarnuji adalah al-Nu’man ibn Ibrahim ibn Khalil al-Zarnuji, Taj al-Din. Beliau adalah sastrawan (adib) yang berasal dari Bukhara. Semula berasal dari Zarnuj, suatu kawasan di negeri-negeri seberang sungai Tigris (ma wara`a al-nahr). Beliau antara lain menulis kitab al-Muwadhdhah Syarh al-Maqamat al-Haririyah, dan wafat pada tahun 630 H/ 1242 M. Al-Zarkeli tidak menuturkan di mana al-Zarnuji tinggal, namun secara umum al-Zarnuji hidup pada akhir periode Daulah Abbasiyah, sebab Khalifah Abbasiyah terakhir (al-Mu’tashim) wafat pada tahun 1258 M. Ada kemungkinan beliau tinggal di kawasan Irak-Iran, sebab beliau juga mengetahui syair-syair Parsi di samping banyaknya contoh-contoh peristiwa pada masa Abbasiyah yang beliau tuturkan dalam kitabnya. 

 
Kitab yang juga disebut Risalah (surat) ini, oleh pengarangnya dimaksudkan sebagai buku petunjuk tentang metode belajar bagi santri, seperti tersebut dari judulnya. Namun apabila dikaji isinya, metode belajar yang dimaksud sangat sedikit. Di antara 14 bab yang terdapat dalam kitab ini (istilah kitabnya, fashl) hanya satu bab saja yang membahas metode belajar. Selebihnya membahas tentang keutamaan ilmu, motivasi belajar, memilih ilmu, guru, dan kawan, memuliakan ilmu dan ulama, dan lain-lain. Bahkan membahas hal-hal yang dianggap dapat mempercepat rizki, karena belajar tak pelak lagi memerlukan hal itu. Karenanya, kitab ini cenderung lebih tepat disebut sebagai kitab yang membahas etika santri, khususnya kepada guru-gurunya, dibanding sebagai kitab tentang metode belajar. Dan agaknya, bagian inilah yang paling banyak mempunyai dampak. 

 
Semoga dengan adanya kajian kitab ini dilingkungan SMAIT khususnya, dan As Syifa Boarding School umumnya, mempunyai dampak nyata dalam keseharian, terutama adab sopan santun terhadap guru atau karyawan lainnya. Amien


Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Salut, SMAIT As Syifa Mengkaji Kitab Ta’limul Muta’alim Karya al Zarnuji"

  1. Acung jempol, top wat smait as syifa, semoga terus bermanfaat dan melahirkan peradaban islam.amin

    ReplyDelete

Anda bisa berkomentar disini. Komentar berisi pertanyaan atau saran mengenai konten yang disajikan di website ini. Terima kasih